Gelap, puisi dan penjelasannya (Edisi Revisi 31 Mei 2025)

 


Gelap


Aku bangun di pagi yang cerah
Menatap bangsaku yang amat akur
Mereka membantai satu sama lain
Membakar ban, membuat huru-hara


Ketika aku berjalan di kota
Aku melihat aparat negara
Melemparkan gas air mata
Yang sepertinya sudah kadaluarsa

Suara rakyat dibungkam
Media massa dibisukan
Baik yang salah apalagi yang benar
Ditutupi oleh keegoisan

Ketika aku berjalan ke desa
Aku melihat para warga
Dilatarbelakangi pemandangan indah
Bermain sabung ayam

Kebenaran dibisukan
Tak ingin didengar 
Apalagi dipikirkan

Ketika aku berselancar di internet
Aku melihat komentar konyol
Yang ditulis oleh orang sok tahu
Yang cerdas saja tidak
Yang membaca saja harus remedial

Indahnya negeriku
Pendidikannya berbuah pahit

Indahnya negeriku
Guru dihina dan direndahkan
"KAMI MENOLAK PENDIDIKAN, GURU-GURU KAMI HINA!" 
Begitulah kata siswa

Indahnya Negeriku
Kebodohan dimana-maana

Bingung nian diriku dibuat
Negeri ini berdiri tegak 
Seakan tak terjadi apa-apa
____________


Banda Aceh, Selasa 29 April 2025                                            SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh


                                                         Hormat saya,
                                                  Andrista Nararya Khairul Anam


Catatan:

Bagian yang ditulis miring adalah bagian yang direvisi pada tanggal 31 Mei 2025
Setelah penulis membacakan puisi ini pada hari Rabu, 30 April 2025. Penulis terpikir untuk membuat penjelasan mengenai puisi "Gelap" di blognya maka dari itu, inilah dia:

Sebenarnya ada satu bait lagi setelah bait terakhir yang berbunyi "Betapa suram dan hinanya, negeri mereka yang suka membaca," namun penulis sengaja tidak membaca bait itu saat tampil untuk menghindari kesalah pahaman, dan bait yang berbunyi "KAMI MENOLAK PENDIDIKAN, GURU-GURU KAMI HINA" adalah sindiran bagi para siswa yang suka menjelek-jelekkan guru di sekolah kami.

Sedikit banyak bercerita, di sekolah penulis bukanlah hal yang asing bagi siswa untuk menghina guru-guru dibelakang, dan penulis tentu tidak menyukai hal ini mengingat guru adalah pelita ditengah kegelapan. Maka dari itu, penulis menuliskan kalimat ini adalah sebagai sindiran kepada siswa-siswa yang menjelekkan para guru dan bersikap menolak kepada pendidikan dan penulis yakin bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di sekolah penulis, maka penulis memaksudkan puisi ini secara luas. 

Penulis nekat melakukan hal ini juga sebagai ujian akan pemahaman teks siswa sekolah penulis. Namun harus penulis akui, bahwa tidak sedikit kesalahpahaman yang disebabkan puisi ini. Bahkan tidak ada yang menyadari bahwa puisi ini menyindir mereka, atau lebih parahnya lagi, ada dari mereka yang tidak mengerti sama sekali maksud puisi ini. Oleh karena itu, penulis mengakui bahwa 70% dari alasan puisi ini dibuat adalah sebagai sindiran kepada kondisi masyarakat di sekolah penulis, yang minim literasi dan nyaris tidak bisa menerima edukasi.

Referensi, penjelasan, dan konteks:

Bait pertama: 

Kerusuhan 1998

Bait kedua:

Kontroversi gas air mata kadaluarsa di Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022

Bait ketiga:

-

Bait keempat:

Orang-orang yang menghina dengan sok tahu di platform media sosial (lebih spesifik, orang-orang yang menghina penulis atas hal-hal tidak jelas yang penulis katakan dan menolak menerima penjelasannya)

Bait kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan:

Sarkasme 





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah

Sebuah Pemikiran [EDISI 4] {Mengapa Mereka Disebut Penjahat?}