Sebuah Pemikiran [EDISI 1] {Manusia, Cinta, dan Rasa jijik}






 

 Sebuah Pemikiran

EDISI 1 [6 JUNI 2025]

Tulisan oleh: Andrista Nararya


Manusia, Cinta, dan Rasa jijik


    Di malam hari tasyrik, aku menulis sebuah teks yang entah akan dibaca atau tidak. Aku tak pernah tahu akan ada yang membaca. Tuhan tak memberi tahu, aku pun tak tahu.

    Kala aku melamun di toilet, di kamar, di manapun aku berada, aku memikirkan banyak hal: Cinta, kasih sayang, dendam, kejahatan, kebaikan, dan banyak hal lagi. Setiap angin berhembus membekukan kulitku, setiap suara bergetar menggetar sukma.

    Kita akhiri dulu mukadimah yang seperti syair ini, dan kita lanjut ke isi tulisan...


    Dunia ini luas, penuh dengan perkembangan, dan tidak pernah berhenti berputar. Disaat seperti ini, menjadi pintar adalah keputusan yang tepat, bila kau bodoh, kau akan mati. Semudah itu.

    Namun apakah kepintaranmu menjamin masa depanmu? Tidak. Ibuku selalu berkata "Bukan orang pintar yang akan bertahan, namun orang yang tekun," dan ia tidak salah. Aku selalu mengingat rankingku di kelas, naik-turun tiada henti. Aku benci mengatakannya, namun aku adalah orang pemalas yang lebih suka berangan-angan ketimbang bekerja.

    Setiap aku memikirkan itu, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Apa yang telah aku perbuat pada diriku? Apakah ini akhirku? Apakah semua yang kulakukan ada maksud dan tujuannya? 

    Namun begitulah manusia, dilahirkan ke dunia yang penuh dengan kebingungan. Apabila tidak ada manusia yang bisa menyelesaikan suatu kebingungan, maka seluruh semesta akan kebingungan. Menyelesaikan suatu kebingungan butuh usaha yang besar, pada saat manusia butuh suatu energi untuk memanaskan diri mereka, turunlah petir, dan muncul api. Ketika sang api padam, mereka tidak mungkin harus menunggu lagi petir selanjutnya datang, oleh karena itu mereka harus membuat api dengan alat yang ada.

    Ketika manusia bingung berkomunikasi jarak jauh, Samuel Morse yang malang kehilangan istrinya menciptakan sebuah kode yang bisa disampaikan melalui kabel listrik, yakni kode morse.

    Tuhan memberikan akal kepada kita saja sudah merupakan suatu nikmat yang besar. Akal dan nafsu adalah kombinasi maut manusia yang tuhan ciptakan sedemikian rupa, agar kita bisa berpikir sendiri. Bila kita tidak diberi nafsu, kita hanya menjadi seperti malaikat yang hanya beribadah kepada Tuhan namun tidak berhasrat untuk melakukan sesuatu yang lain. Namun bila kita hanya diberi nafsu, tataplah binatang dan lihatlah kelakuan mereka, begitulah kita jadinya nanti. 

    Aku mengenal banyak makhluk yang bergenus Homo dan berspesies Sapiens ini yang seakan tidak berakal atau mungkin mereka punya, namun enggan menggunakannya. Menurutku, inilah kufur nikmat paling dasar, dan paling merajalela diantara makhluk bernama manusia ini. Terkadang malah, mereka yang sok-sokan menyebut orang yang jelas-jelas menggunakan akalnya sebagai bagian dari mereka. Sudahlah, semoga Tuhan beri mereka petunjuk sebelum mereka binasa.


    Ngomongin soal jijik, aku juga sering merasa jijik pada diriku sendiri. Aku pernah mencintai seseorang, begitu mencintai sampai aku selalu mencari perhatiannya. Aku tahu dia risih padaku.
Sejak menyadari itu, kadang aku benci pada diriku sendiri, benci sekali hingga rasanya aku ingin mengakhiri hidupku sendiri.

    Entah mengapa aku lebih senang mencari perhatian dari jauh terhadap orang yang kusukai ketimbang menghadapinya langsung. Semakin jauh terasa semakin dekat. Begitulah.

(Edisi 6 Juni 2025)

Author: Andrista Nararya Khairul Anam
Manager: Andrista Nararya Khairul Anam
Someone supported me to stay alive: My family and you guys

Love you 💖

This is just an article

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelap, puisi dan penjelasannya (Edisi Revisi 31 Mei 2025)

Sekolah

Sebuah Pemikiran [EDISI 4] {Mengapa Mereka Disebut Penjahat?}