Sebuah Pemikiran [EDISI 2] {Pendidikan, Peserta didik, dan Problematikanya}
Sebuah Pemikiran
[EDISI 2] 14 Juni 2025
Tulisan Oleh: Andrista Nararya Khairul Anam
Pendidikan, Peserta didik, dan Problematikanya
- Apakah mereka tidak diajarkan sopan santun dirumahnya?
- Apa pendidikan kita tidak bisa diterima anak-anak?
- Apakah sebenarnya, sistem pendidikan kita yang ternyata gagal?
- Siapa yang harus disalahkan atas fenomena ini?
Saya akan menjawab dengan opini saya, jadi bila ada yang salah, mohon bantu koreksi di kolom komentar.
Pertama-tama, yang salah bukan sepenuhnya sistem pendidikan, tenaga pendidik, maupun siswa. Namun ini adalah salah kita bersama. Sistem pendidikan tidak sepenuhnya mendukung guru di pedalaman, tenaga pendidik yang tidak semuanya terbiasa dengan sistem pendidikan yang diperbaharui setiap saat, dan siswa yang tidak dapat mencerna pelajaran yang diberikan guru dengan baik.
Guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa, sebuah jargon yang sudah lama kita kenali sejak masih sangat belia. Namun seorang guru yang tidak dapat mendidik muridnya dengan baik, menelantarkan muridnya, tidak layak mendapat gelar ini. Ada guru-guru yang hanya hadir di hari perkenalan dan menghilang setelahnya, ada guru yang sering terlambat masuk atau bahkan tidak masuk tanpa alasan. Ini bisa menjadi alasan mengapa beberapa peserta didik tidak puas dengan pelajaran yang diberikan. Ada pula guru yang tidak bisa berinovasi dan membuat pelajaran begitu-begitu saja dan membuat siswa jenuh. Ada pula guru yang terlalu lembek dan tidak dapat mengendalikan keadaan kelas. Dan ada pula guru yang terlalu kejam dan malah membuat kelas tidak nyaman untuk belajar.
Sementara itu, ada pula siswa yang sama sekali tidak bisa menghargai gurunya, yang terkadang saya pandang seakan lebih rendah dari binatang. Mereka selalu berbicara di tengah pelajaran, menghina guru dari belakang, mengatai yang bukan-bukan, atau bahkan mencelakai gurunya sendiri. Mereka adalah hewan-hewan yang tak pantas menghirup udara daratan, dan bahkan seharusnya bumi enggan menelan mereka. Ada pula yang otaknya kurang bisa menyerap pelajaran, dan bahkan ada juga mereka yang enggan masuk kedalam kelas. Namun ada pula siswa yang agak pelik, karena mereka bahkan enggan belajar meski diberikan guru paling menyenangkan sekalipun
Namun semua ini kembali kepada sistem pendidikan dan kurikulum. Ada beberapa siswa yang malas mengerjakan tugas-tugas di P5, karena menurut mereka memberatkan dan sulit, ada siswa yang tak bisa berpikir kritis untuk menentukan objek penelitian, ada pula siswa yang kesulitan di material. Dan sistem kurikulum modern ini juga memerlukan perangkat elektronik untuk mendukung proses belajar-mengajar, dan tidak semua sekolah menyediakan kenyamanan ini. Ada sekolah yang masih di pedalaman yang susah mengakses internet, dan ada pula sekolah yang menyediakan, namun masih berupa perangkat rongsokan yang sudah tidak kompatibel dengan program-program jaman sekarang yang harus digunakan.
Semua ini kembali lagi ke diri kita sendiri, apa kesalahan kita? Apa yang perlu kita perbaiki? semua pertanyaan itu kembali kepada individu masing-masing.
Pertanyaannya adalah: Lantas, bagaimana pendidikan harusnya dijalankan?
Menurut penulis, pendidikan adalah proses belajar-mengajar yang dilakukan di suatu lingkungan terorganisasi yang menciptakan ikatan saling mendukung antara guru dan murid, yang dilakukan dalam jarak waktu tertentu, dan dengan sistem belajar yang dapat diterima oleh semua siswa, dengan perangkat yang bisa didapatkan oleh semua kalangan. Mulai dari yang termiskin hingga yang terkaya.
Bisa.
Asalkan ada ikatan saling mengerti antara penyedia layanan pendidikan dengan peserta didik yang dididik. Asalkan ada dukungan baik secara materi maupun mental yang cukup. Asalkan keluarga peserta didik dan guru bisa saling mengerti. Tak akan ada yang dirugikan, tak akan ada yang kecewa.
Bila pertanyaannya bagaimana, penulis belum cukup bijaksana untuk menjawabnya. Penulis hanya manusia biasa, begitu juga pembaca. Manusia adalah tempat berkumpulnya kesalahan, sedangkan kebenaran hanya dari sang pencipta. Akhirul kalam, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wah saya se7 dengan problematika ini, tidak hanya itu terkadang beberapa dari kita pun mewajarkan hal tersebut sehingga membentuk kebiasaan-kebiasan yg tidak patuh dicontoh, seperti bolos dll. Saya hanya bisa memberitahu jika teman2 saya melakukan ituu:')
BalasHapusTerima kasih :)
Hapus