Gelap Aku bangun di pagi yang cerah Menatap bangsaku yang amat akur Mereka membantai satu sama lain Membakar ban, membuat huru-hara Ketika aku berjalan di kota Aku melihat aparat negara Melemparkan gas air mata Yang sepertinya sudah kadaluarsa Suara rakyat dibungkam Media massa dibisukan Baik yang salah apalagi yang benar Ditutupi oleh keegoisan Ketika aku berjalan ke desa Aku melihat para warga Dilatarbelakangi pemandangan indah Bermain sabung ayam Kebenaran dibisukan Tak ingin didengar Apalagi dipikirkan Ketika aku berselancar di internet Aku melihat komentar konyol Yang ditulis oleh orang sok tahu Yang cerdas saja tidak Yang membaca saja harus remedial Indahnya negeriku Pendidikannya berbuah pahit Indahnya negeriku Guru dihina dan direndahkan "KAMI MENOLAK PENDIDIKAN, GURU-GURU KAMI HINA!" Begitulah kata siswa Indahnya Negeriku Kebodohan dimana-maana Bingung nian diriku dibuat Negeri ini berdiri tegak Seakan tak terjadi apa-apa ____________ Banda Aceh, Selasa...
Sekolah AKU TAK MAU, PERGI SEKOLAH!!! TEMPAT ITU AMAT MENGERIKAN!!! Dia lagi, tertawa gelap dengan wajah yang menghitam, sudut ruangan itu mengingatkanku akan dirinya... Orang itu lagi, di sudut jalan, tertawa melihatku jalan tertunduk... Ditunjuk lagi oleh jemari mereka... Aaaaah! Alangkah ingin aku mematahkannya!!! Mati! Mati! Mati! Lagi dan lagi!!! Hahahahahahaahahahahahahhaahahahahahah!!!!! Tertawalah dengan wajah yang menghitam, dengan gelap! Aku dengar kau punya wajah biru yang dalam! Aku merangkak-rangkak Berjalan-jalan Tanpa harapan Mata dingin itu menatapku lagi... Seluruh kelas menertawakanku, aku bisa melihat kegelapan menyelimuti suara dan tawa mereka!!! TIDAK!!! TIDAK!!! TIDAK!!! IBU, TOLONG AKU!!!! TEMAN-TEMAN, TOLONG!!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! MENGAPA DARAH MENGALIR?! Menangislah, dengan wajah biru yang dalam... BETAPA MENJIJIKKANNYA AKU!!! MENGAPA AKU TERLAHIR?!! PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI MENGHINAKU, AKU INGIN MENGHANCURKAN MEREKA!!! ...
Sebuah Pemikiran [EDISI 4] 5 Juli 2025 Tulisan Oleh: Andrista Nararya Khairul Anam {Mengapa Mereka Disebut Penjahat?} Tulisan ini akan saya isi dengan tumpukan kekecewaan saya kepada saudara sesama muslim, namun sebelum itu, izinkan saya menyambut semuanya di Sebuah Pemikiran Edisi ke-4! Edisi pertama di bulan Juli yang akan menjadi edisi yang menurut saya paling tepi jurang pembahasannya. Maafkan penulis karena sudah sebulan lebih tidak update SebIra, namun penulis yakin tak ada yang menunggu rilis edisi keempat, hehe (kalau ada, tulis di kolom komentar ya, ide tulisan, motivasi, tanggapan atau semacam itu, hehehe). Pertama, saya ingin memberikan tepuk tangan pada toleransi beragama di wilayah saya, yang saya pandang cukup lancar. Nampaknya belum ada pertikaian antar-agama dalam satu dekade sejak saya lahir. Namun untuk seluruh Indonesia, saya nampaknya belum bisa memberikan tepuk tangan atas toleransi beragamanya. Namun selebih itu, toleransi a...
Komentar
Posting Komentar