Senioritas: Sebuah pendapat

Senioritas, saya benci senioritas.

Memang, senioritas tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan dan lingkungan sehari-hari, tapi bagaimana senioritas yang tepat dan tidak menyakiti orang lain?

Pertama-tama, kenali dulu apa itu senioritas. Menurut KBBI, senioritas didefinisikan sebagai perihal senior, atau keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia — semacam prioritas status yang diperoleh dari lamanya seseorang berada atau bekerja di suatu tempat. Sedangkan menurut kajian sosial populer, istilah ini lebih sering diasosiasikan dengan perlakuan buruk senior terhadap junior — mulai dari perpeloncoan simbolik sampai kekerasan fisik. Beberapa tulisan menyebut budaya ini sebagai warisan feodalisme, di mana yang muda dituntut tunduk pada yang tua tanpa banyak bertanya, dan ungkapan "senior tidak pernah salah" jadi semacam pembenaran.

Sedangkan dari sudut psikologi perilaku, senioritas yang bermuatan kekerasan dijelaskan sebagai perilaku yang dipelajari (bukan bawaan) — junior yang jadi korban, ketika naik jadi senior, cenderung mengulang pola yang sama karena sudah dibingkai ulang sebagai "tradisi" atau "pembinaan mental". Tiga faktor yang sering disebut sebagai penyebab: (a) kesalahan cara pandang remaja yang menganggap sikap keras sebagai simbol status, (b) lemahnya kontrol tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), (c) institusi yang membiarkan kekerasan berbungkus disiplin. Pratiwi (2012), dalam Jurnal Psikologi Pendidikan, bahkan mencatat budaya senioritas semacam ini berdampak langsung pada kesehatan mental siswa yang jadi sasarannya. Menariknya, pola serupa ternyata bukan cuma gejala lokal. Aldo Cimino, peneliti psikologi evolusioner dari UC Santa Barbara, dalam risetnya "The Evolution of Hazing" (2011, Journal of Cognition and Culture) menemukan bahwa hazing muncul lintas budaya di seluruh dunia karena berfungsi menyaring anggota baru yang tidak benar-benar berkomitmen pada kelompok. Jadi dorongannya bukan cuma soal senior yang iseng atau kejam — ada motif kolektif di baliknya, meski itu sama sekali tidak membenarkan cara yang dipakai.

Baiklah, setelah kita memahami apa yang dimaksud dengan senioritas, saya ingin memaparkan hal ini dalam opini saya. Di sekolah saya, saya termasuk siswa tahun terakhir, dan saya cukup akrab dengan junior saya, seperti berteman, bermain seperti layaknya teman sebaya. Saya juga menjaga sopan santun serta adab dengan mereka, juga menasehati mereka.

Saya selalu bilang kepada mereka agar tidak takut kepada senior (seperti layaknya takut kepada preman), dan bila ada senior yang memalak atau memaksa mereka, mereka harus berani melawan balik — bukan dengan tinju, tapi dengan menolak dan melapor. Diam hanya membuat mereka jadi sasaran empuk berikutnya.

Tentu, banyak diantara teman saya sesama senior tidak setuju dengan pendapat ini. Mereka beranggapan bahwasanya "senior" itu adalah status yang keren, dan harus ditunjukan kepada junior. Sedikit ketidak-sopanan kecil dari junior bisa saja membuat senior kepanasan. Mereka berkata kepada saya "Mereka gen alfa, lantang kali mulut mereka," namun pada perspektif saya, yang mereka sebut "kelantangan" itu kebanyakan cuma junior yang berkata apa adanya dan sesuai kenyataan.

Ketika saya masih junior, tidak sedikit saya merasakan intimidasi dari senior, mereka merasa karena mereka lebih tua dari saya, mereka bisa semena-mena bersikap terhadap saya. Maka dari itu, saya ingin menghentikan siklus itu dengan menjadi senior yang tidak memandang rendah junior.

Cerita saya ini skalanya kecil, satu sekolah, bukan taruhan nyawa. Tapi pola dasarnya sama persis dengan yang berulang di berita: senior yang merasa berhak semena-mena karena merasa "lebih dulu ada". Kalau pola itu dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan, ia bisa membesar jauh melampaui urusan gengsi antar-angkatan. Berikut beberapa contoh kasus di mana senioritas benar-benar menjadi di luar kendali.

Kasus IPDN — Cliff Muntu (2007)

Kasus ini menjadi salah satu titik balik kesadaran publik Indonesia soal kekerasan senioritas di sekolah kedinasan. Cliff Muntu, praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) asal Manado, tewas pada April 2007 setelah dipanggil bersama puluhan rekannya untuk sesi "pembinaan" oleh sejumlah senior di barak. Rekonstruksi kepolisian yang dilaporkan Antara News mengungkap puluhan adegan kekerasan dalam insiden itu, dan otopsi menemukan pendarahan luas di berbagai organ vital korban. Yang membuat kasus ini makin mengerikan: menurut liputan Liputan6 dan Hukumonline, pihak kampus sempat menutupi penyebab kematian dengan menyebutnya sebagai penyakit liver, sebelum akhirnya terbongkar lewat otopsi ulang atas desakan keluarga. Belakangan terungkap pula, menurut keterangan seorang dosen IPDN saat itu, bahwa sejak tahun 1990-an puluhan praja IPDN dilaporkan tewas akibat kekerasan serupa — menunjukkan ini bukan kasus tunggal, melainkan pola yang berulang selama bertahun-tahun di institusi yang sama.

Kasus STIP Jakarta (2024)

Tujuh belas tahun setelah kasus Cliff Muntu, pola yang nyaris identik terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara. Berdasarkan laporan detikcom, Kompas, dan Antara, Putu Satria Ananta Rustika, taruna tingkat satu berusia 19 tahun, tewas pada Mei 2024 setelah dipukul lima kali di bagian ulu hati oleh seniornya, hanya karena dianggap tidak sopan memakai seragam olahraga saat masuk kelas. Ironisnya, penyelidikan polisi menyebut penyebab kematian yang lebih fatal justru terjadi ketika sang senior — panik melihat korban pingsan — melakukan "pertolongan" yang keliru dengan menarik lidah korban, sehingga menyumbat saluran napasnya. Motif di balik pemukulan itu sendiri disebut polisi sebagai "arogansi senioritas" — sebuah pertanyaan sepele soal "siapa yang paling kuat" yang berujung pada kematian.

Senioritas ini bukanlah masalah individu, melainkan masalah sistem.

Titik yang luput dari pembahasan publik mengenai kasus-kasus di atas adalah bahwasanya ini bukan sekadar "oknum senior yang bermasalah secara pribadi". Melainkan pola yang berulang selama bertahun-tahun — IPDN dengan puluhan korban sejak 1990-an, misalnya — menunjukkan bahwa ini adalah masalah dari sistem itu sendiri: institusi tutup mata, membiarkan, kadang diam-diam merestui tindakan kekerasan sebagai pembentukan karakter, hingga akhirnya jatuh korban baru bereaksi. Laporan Jaringan Pendidikan Pemuda Indonesia (JPPI, 2019) soal kekerasan dalam pendidikan Indonesia juga mencatat pola yang sama: institusi umumnya baru bertindak setelah kasus mencuat ke media, bukan lewat pengawasan rutin.

Ini yang membuat argumen "senioritas itu perlu untuk mendisiplinkan junior" runtuh dengan sendirinya. Disiplin dan pembimbingan tidak butuh kekerasan untuk berjalan efektif — justru penelitian dan pengalaman lapangan berulang kali menunjukkan bahwa kekerasan menciptakan ketakutan, bukan rasa hormat, dan ketakutan itu diwariskan sebagai dendam ke angkatan berikutnya, bukan sebagai nilai yang membangun. Sinaga (2023), dalam Jurnal Manajemen Organisasi, membedakan ini dengan tegas: budaya senioritas yang sehat berjalan lewat kedisiplinan dan solidaritas, bukan dominasi sepihak.

Jika ada sisi yang layak dipertahankan dari senioritas, itu adalah makna aslinya di kamus: pengakuan atas pengalaman, dan tanggung jawab moral untuk membimbing, bukan mendominasi. Senior sejati semestinya orang yang paling siap mengajari, bukan yang paling siap menghukum.

Senioritas, dalam pengertian aslinya, adalah sesuatu yang netral bahkan berguna — pengakuan atas pengalaman yang lebih panjang di suatu lingkungan. Tapi begitu kata itu menjadi alat kekuasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan, ia berubah menjadi mesin kekerasan antar-generasi yang, seperti ditunjukkan kasus Cliff Muntu dan Putu Satria, bisa merenggut nyawa. Selama institusi pendidikan — dari sekolah menengah, kampus, hingga sekolah kedinasan — masih memaknai kekerasan sebagai bagian dari "pembinaan", kita akan terus membaca berita yang sama, hanya dengan nama korban yang berbeda.


Sumber dan bacaan lebih lanjut

Berita dan liputan kasus:

  • Antara News — kronologi dan rekonstruksi kasus Cliff Muntu (2007)
  • Liputan6 dan Hukumonline — pengungkapan penyebab kematian Cliff Muntu dan gugatan keluarga
  • detikcom, Kompas/Kompas.tv, Antara, dan RRI — kronologi kematian Putu Satria Ananta Rustika di STIP Jakarta (2024)

Rujukan akademik:

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), entri "senioritas"
  • Pratiwi, S. (2012). Dampak negatif budaya senioritas terhadap kesehatan mental siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan, 10(1), 45–58.
  • Sinaga, R. (2023). Budaya senioritas dalam organisasi: Antara kedisiplinan dan solidaritas. Jurnal Manajemen Organisasi, 12(4), 300–312.
  • Jaringan Pendidikan Pemuda Indonesia (JPPI). (2019). Laporan tentang kekerasan dalam pendidikan Indonesia.
  • Cimino, A. (2011). The evolution of hazing: Motivational mechanisms and the abuse of newcomers. Journal of Cognition and Culture, 11, 241–267.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelap, puisi dan penjelasannya (Edisi Revisi 31 Mei 2025)

Sekolah

Sebuah Pemikiran [EDISI 4] {Mengapa Mereka Disebut Penjahat?}